My Catharsis
Kamis, April 12, 2012
Demi Tuhan Saya Atheis
Untuk tulisan yang berjudul sama di atas klik link berikut. :)
Banyak orang di Indonesia yang mengatakan bahwa Indonesia bukanlah negara agama sehingga tidak selayaknya memaksa seorang warga negara untuk memeluk satu agama. Namun seperti yang diketahui banyak orang, adalah wajib hukumnya bagi semua warga negara Indonesia untuk memilih salah satu agama yang kebetulan mendapatkan 'tempat' dalam kehidupan bernegara: Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Kong Hu Chu. Paling tidak ketika mereka akan membuat KTP dimana di dalam kolomnya ada 'agama' yang harus diisi.
Dalam tulisan dalam link di atas, Mohamad Guntur Romli -- salah satu aktivis yang selalu dihubungkan dengan JIL atau Jaringan Islam Liberal -- membandingkan dua orang yang nampaknya memiliki cara pandang yang sama dalam 'memahami' agama. Seorang dari mereka bernama Dadang yang hampir selalu mengenakan kaos dengan tulisan "DEMI TUHAN SAYA ATHEIS" dalam kehidupannya sehari-hari terutama ketika menghadiri banyak acara yang -- menariknya -- berhubungan dengan agama, misal pengajian. Hebatnya seorang Dadang yang konon mendirikan sebuah organisasi "Jaringan Kafir Liberal" (yang disingkat sebagai JAKAR) (bisa dianggap sebagai plesetan dari JIL bukan?) tidak pernah dianggap "membahayakan" budaya beragama di Indonesia, termasuk mereka-mereka yang menghadiri pengajian yang juga dia hadiri.
Seorang lain lagi bernama Alexander Aan. Dalam akun facebooknya dia mengaku sebagai seorang atheis setelah melewati 'prosedur' panjang mempertanyakan keberadaan Tuhan. Jika memang Tuhan itu ada, mengapa segala hal yang berhubungan dengan kejahatan, kekejaman, kebrutalan, terus saja merajalela? Nasib yang bertolak belakang dibandingkan Dadang dialami oleh Aan. Aan dianggap membahayakan oleh masyarakat sekitarnya, sehingga perlu 'diselamatkan' oleh polisi yang ternyata kemudian menjebloskannya ke penjara.
Indonesia oh Indonesia :'(
GL7 13.13 130412
Gambar diambil dari sini.
Selasa, Maret 20, 2012
doapagi
#doapagi
Aku ga ingat
kapan terakhir kali aku berdoa.
mungkin sejak aku sadar bahwa dalam
kamus ‘lamaku’ bahwa berdoa berarti “mendikte tuhan untuk merealisasikan apa
yang kuinginkan dan kuucapkan dalam doa itu” dan bukannya “memohon kemurahan
tuhan agar mengabulkan apa yang kuminta”. Mungkin pada titik inilah aku
kemudian bertransformasi dari seorang relijius konvensional menjadi seorang
agnostik, dan bukan sekedar “muslim sekuler’. Kapan itu? Entahlah, aku sendiri
tidak begitu ingat. Tapi, mungkin beberapa postingan yang berhubungan dengan
“praying” bisa membantu mengingatkanku sendiri. 
mungkin sejak aku sadar bahwa dalam
kamus ‘lamaku’ bahwa berdoa berarti “mendikte tuhan untuk merealisasikan apa
yang kuinginkan dan kuucapkan dalam doa itu” dan bukannya “memohon kemurahan
tuhan agar mengabulkan apa yang kuminta”. Mungkin pada titik inilah aku
kemudian bertransformasi dari seorang relijius konvensional menjadi seorang
agnostik, dan bukan sekedar “muslim sekuler’. Kapan itu? Entahlah, aku sendiri
tidak begitu ingat. Tapi, mungkin beberapa postingan yang berhubungan dengan
“praying” bisa membantu mengingatkanku sendiri. 
So, karena
aku berhenti berdoa, apakah aku tak lagi memiliki harapan-harapan untuk masa
depanku? Setujukah engkau kalau kukatakan bahwa berdoa itu berarti kita
berharap untuk mendapatkan sesuatu yang baik untuk masa depan kita dan kita
memohon pertolongan tuhan untuk membuatnya jadi nyata? Atau dalam titik yang
lebih ekstrim, kita mendikte tuhan untuk mengabulkannya.
)
)
Tentu saja
aku masih memilik harapan (atau harapan-harapan) untuk masa depanku. Tapi,
seperti yang orang bilang bahwa berdoa itu memiliki sugesti. Setelah berdoa,
orang merasa bahwa mereka memiliki kekuatan yang lebih untuk membuat mimpi
mereka menjadi nyata. Sehingga bisa dikatakan bahwa setelah berdoa, orang akan
berusaha lebih keras untuk mencapai mimpi-mimpinya.
Bagaimana
denganku? Aku lompati langkah berdoa itu. Setelah memiliki satu harapan –
misalnya – aku akan langsung melompat ke langkah berikutnya: berusaha sebaik
baik untuk merealisasikannya. Bukankah usaha inilah bagian yang paling penting
dari menjadikan mimpi kita menjadi kenyataan?
Tetapi,
semenjak aku sadar bahwa dalam banyak kasus, harapan-harapan itulah yang justru
melukaiku ketika harapan itu tidak menjadi nyata; terutama ketika harapan itu
berhubungan dengan orang lain; aku mulai mencoba mengerem diri agar tidak
memiliki terlalu banyak harapan. Menjalani kehidupan dengan secukupnya.
Melakukan yang harus aku lakukan. Seperti yang dipercaya oleh para spiritualis,
apa pun yang kita lakukan kepada orang lain di alam semesta ini, sebenarnya
kita melakukannya kepada diri kita sendiri.
Sementara
itu ...
Beberapa
minggu yang lalu, karena sesuatu hal aku membuka akun twitter yang sebenarnya
kubuat kalau tidak salah di pertengahan tahun 2010, namun tak pernah kubuka
lagi gara-gara buta twitter.
sejak beberapa minggu yang lalu itu, aku entah
mengapa mulai iseng twitteran sampai aku menemukan akun milik beberapa public
figures yang kupikir – alias kuharapkan – akan membuka cakrawala pandangku, maka
aku mulai memfollow mereka. Salah satunya adalah Ayu utami yang bukunya yang
berjudul Si Parasit Lajang adalah salah satu buku paling terfavoritku.
Dan aku selalu suka membaca
buku-bukunya yang lain, mulai dari Saman, Larung, Bilangan Fu sampai Manjali
dan Cakrabirawa.
sejak beberapa minggu yang lalu itu, aku entah
mengapa mulai iseng twitteran sampai aku menemukan akun milik beberapa public
figures yang kupikir – alias kuharapkan – akan membuka cakrawala pandangku, maka
aku mulai memfollow mereka. Salah satunya adalah Ayu utami yang bukunya yang
berjudul Si Parasit Lajang adalah salah satu buku paling terfavoritku.
Dan aku selalu suka membaca
buku-bukunya yang lain, mulai dari Saman, Larung, Bilangan Fu sampai Manjali
dan Cakrabirawa.
Aku tidak
tahu pandangan spiritualnya, memang. Satu hal yang aku tahu adalah dia menolak
keras budaya patriarki. (Ha ha ... siapa pun yang membaca buku-bukunya tentu
tahu hal ini lah.)
Namun terus
terang setelah ‘follow’ akun twitternya, aku terheran-heran waktu pertama kali
mendapati tweet-nya yang berhubungan dengan doa, meski mungkin terdengar
simpel. Misal, “#doapagi, lenturkanlah otot kami yang tegang”, “#doapagi,
lumerkanlah lemak menggumpal ini”, sampai yang terdengar lebih serius, seperti
“#doapagi, tajamkanlah pikiran kami dan lembutkanlah hati kami”.
Well,
mungkin bisa dikatakan bahwa Ayu Utami adalah salah satu role modelku hingga
tak mengherankan jika ‘out of nowhere’ aku mulai berpikir ‘doa’ apa ya yang
bisa kupos di akun twitterku? :-P Postingan pertama tentang doa adalah ini
"#morningpray, wish my yummy cappuccino will brighten up my day and the good
rumor at school will come true”. Kalau dipikir-pikir, sebenarnya ga terlalu
berbeda dari status yang kadang kutulis di akun fb, misal “my darling perfecto
cappuccino, please brighten my day”. Hanya aku tidak melabelinya sebagai suatu
doa. 

Setujukah
anda jika keberadaan social network – misal facebook – telah membuat orang
semakin narsisis? Nah, ini juga terjadi pada diriku yang memang berbakat
narsis.
Maka, ide ‘baru’ tentang update
status menggunakan istilah #doapagi (maupun #morningpray) memberiku kesempatan
yang lebih untuk menarik perhatian my online buddies there. (ahh, excuses!
)
Maka, ide ‘baru’ tentang update
status menggunakan istilah #doapagi (maupun #morningpray) memberiku kesempatan
yang lebih untuk menarik perhatian my online buddies there. (ahh, excuses!
)
Dan ternyata
tak lama kemudian ketika membaca novel Ayu Utami yang barusan terbit beberapa
minggu lalu, yang berjudul Cerita Cinta Enrico – yang bisa disebut sebagai
novel biografi suaminya – aku mendapatkan jawaban dari pertanyaanku sendiri
bagaimanakah pandangan spiritual seorang Ayu Utami. Jika dibandingkan dengan
Enrico yang menganggap dirinya seorang ‘non believer’ (namun tetap berpikir
‘ribet’ tentang dosa ketika melakukan hubungan seksual), Ayu tetaplah seorang
‘believer’. Dia ‘hanya’ anti segala hal yang berbau ‘male-dominated’, misal peraturan
pernikahan di Indonesia: suami adalah pemimpin rumah tangga dan istri adalah
ibu rumah tangga. Pemerintah tidak selayaknya ikut
campur tangan dalam urusan keluarga warga negara. Biarkan masing-masing
keluarga mengatur urusan dalam keluarga itu sendiri.
Bagaimana
denganku? Percaya bahwa semua agama (atau hanya agama Ibrahimi ya?) adalah
produk kultur patriarki, aku memutuskan untuk netral.
So? Meskipun
aku mengaku sebagai seorang agnostic, di akun twitterku (yang kusinkronkan ke
akun facebook), mungkin sesekali aku akan menulis #doapagi. Namun, tentu saja,
‘doa’ ini jauh dari apa yang di atas kusebut sebagai mendikte tuhan untuk
melakukan ini itu.
GL7 08.50
21031
check this link and this another link about praying
gambar diambil dari sini
versi English bisa dibaca di sebelah
check this link and this another link about praying
gambar diambil dari sini
versi English bisa dibaca di sebelah
Langganan:
Entri (Atom)